Senin, 12 Oktober 2009

FENOMENA GEMPA DI INDONESIA

Sejumlah wilayah di Indonesia berulang kali dilanda gempa bumi. Dalam rentang waktu yang singkat gempa mengguncang Tasikmalaya, Yogyakarta, Aceh, Nusa Tenggara Barat, Toli-Toli, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu dan hingga kini Lampung juga dihantui dengan gempa. Akibat gempa tidak hanya merusakan bangunan, namun banyak menelan korban jiwa. Lalu seperti apa antisipasi dalam menghadapi ancaman gempa di Tanah Air?

Potensi gempa di Indonesia memang terbilang besar, hal ini disebabkan lokasi Indonesia yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik utama, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Fhilipine sebagaimana terlihat pada gambar di bawah ini :

Pertemuan empat lempeng tersebut mengakibatkan mekanisme tektonik dan geologi Indonesia menjadi lebih rumit. Indonesia juga memiliki struktur island-arc dengan karakteristik physiografik yang unik seperti palung samudera yang dalam, geanticlines belt, volcanic inner arc, dan marginal basin.
Berdasarkan SNI-1726 2002 Indonesia dibagi menjadi 6 wilayah gempa, seperti pada gambar dibawah ini:

Dimana wilayah gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan yang paling rendah dan wilayah gempa 6 adalah wilayah dengan kegempaan paling tinggi. Pembagian wilayah gempa ini, didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh gempa rencana dengan periode ulang 500 tahun, yang nilai rata-ratanya untuk setiap wilayah gempa ditetapkan dalam tabel.
Gempa yang bekerja pada suatu struktur menyebabkan struktur tersebut akan mengalami pergerakan secara vertikal maupun secara lateral. Pergerakan tanah tersebut menimbulkan percepatan sehingga struktur yang memiliki massa akan mengalami gaya berdasarkan rumus F = m x a. Dalam hal ini konstruksi bangunan yang tahan gempa perlu diperhatikan untuk mengurangi dampak akibat runtuhnya bangunan.
Berikut ini adalah salah satu tanda-tanda fenomena alam sebelum terjadinya gempa berdasarkan analisis seorang pakar dan saksi-saksi yang melihat dan merasakan secara langsung sebelum terjadinya gempa.

1.Munculnya Awan Gempa
Bentuknya memanjang secara vertikal, seperti tornado atau batang pohon. Awan yang bentuknya aneh itu terjadi karena adanya gelombang elektromagnetis berkekuatan hebat dari dasar bumi, jadinya “menghisap” daya listrik di awan.. makanya bentuk awannya jadi kayak tersedot kebawah. Awan gempa ini biasanya muncul kurang lebih 4 s/d 24 jam sebelum gempa besar terjadi.

Bentuk Awan Sebelum Terjadi Gempa di Yogyakarta
Gelombang elektromagnetis berkekuatan besar itu sendiri terjadi akibat adanya patahan atau pergeseran lempeng bumi. Tapi belum tentu juga kalau ada awan seperti itu di langit berarti mau ada gempa, mungkin memang bentuk awannya seperti itu.

2.Cek Peralatan Elektronik
Siaran TV brebet-brebet apa enggak. Kalo ada mesin fax, cek apakah lampunya blinking biarpun lagi gak transmit data. Coba suruh orang lain kirim fax ke kita, cek apakah teksnya yang diterima brantakan atau enggak. Coba matikan aliran listrik, lalu cek apakah lampu neon tetap menyala redup/remang-remang biarpun nggak ada arus listrik. Jika tetap menyala walaupun tidak ada arus listrik, berarti sedang ada gelombang elektromaknetis yang besar.

3.Amati Hewan-Hewan Disekitar Kita
Biasanya dalam keadaan bahaya, hewan-hewan akan nampak "gelisah", berisik dan mungkin juga tiba-tiba lari dan menghilang ntah kemana. Instingnya yang tajam dapat merasakan fenomena alam dan gelombang elektromagnetik yang tidak bisa kita rasakan.

Mengingat hingga sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi baik waktu, tempat dan intensitas gempa di Indonesia, maka zona-zona yang masuk rawan gempa seharusnya mendapat perhatian pemerintah, misalnya dengan memberikan pelatihan apakah yang harus dilakukan saat terjadi gempa, pembacaan tanda-tanda fenomena alam sebelum terjadi gempa, dan antisipasi penanggulangan gempa dengan mendirikan bangunan anti gempa pada gedung-gedung yang banyak dikunjungi orang di daerah-daerah rawan gempa Upaya ini diperlukan untuk mengurangi jatuhnya korban yang lebih banyak lagi atau dampak buruk lainnya akibat gempa.

Tidak ada komentar: