“Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu!
Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!
Engkau melihat kepada amal perbuatanmu, walau baik sekalipun, tak layak bagi-Ku untuk memandangnya. Maka janganlah engkau masuk kepada-Ku besertanya!
Sesungguhnya, jika engkau mendatangi-Ku berbekal amal perbuatanmu, maka akan Aku sambut dengan penagihan dan perhitungan. Jika engkau mendatangi-Ku berbekal ilmu, maka akan Aku sambut dengan tuntutan! Dan jika engkau mendatangi-Ku dengan ma’rifat, maka sambutan-Ku adalah hujjah, padahal hujjah-Ku pastilah tak terkalahkan.
Hendaklah engkau singkirkan ikhtiar (ikut mengatur dan menentukan kehendak-Nya untuk dirimu—red), pasti akan aku singkirkan darimu tuntutan. Hendaklah engkau tanggalkan ilmumu, amalmu, ma’rifat-mu, sifatmu dan asma (nama) mu dan segala yang ada (ketika mendatangi-Ku), supaya engkau bertemu dengan Aku seorang diri.
Bila engkau menemui-Ku, dan masih ada diantara Aku dan engkau salah satu dari hal-hal itu, —padahal Aku-lah yang menciptakan semua itu, dan telah Aku singkirkan semua itu darimu karena cinta-Ku untuk mendekat kepadamu, sehingga janganlah membawa semua itu ketika mendatangi-Ku—, jika masih saja engkau demikian, maka tiada lagi kebaikanmu yang tersisa darimu.
Kalau saja engkau mengetahui, ketika engkau memasuki-Ku, pastilah engkau bahkan akan memisahkan diri dari para malaikat, sekalipun mereka semua saling bahu-membahu untuk membantumu, karena keraguanmu itu (bahwa ada penolongmu dihadapan-Nya selain Dia—red.), maka hendaklah jangan ada lagi penolong selain Aku.
Jangan pernah engkau melangkah ke luar rumah tanpa mengharap keridhaan-Ku, sebab Aku-lah yang menunggumu (di luar rumah—red.) untuk menjadi penuntunmu.
Temuilah Aku dalam kesendirianmu, sekali atau dua kali setelah engkau menyelesaikah shalatmu, niscaya akan Aku jaga engkau di siang dan malam harimu, akan Aku jaga pula hatimu, akan Aku jaga pula urusanmu, dan juga keteguhan kehendakmu.
Tahukah engkau bagaimana caranya engkau datang menemui-Ku seorang diri? Hendaknya engkau menyaksikan bahwa sampainya hidayah-Ku kepadamu adalah karena kepemurahan-Ku. Bukan amalmu yang menyebabkan engkau menerima ampunan-Ku, bukan pula ilmumu.
Kembalikan pada-Ku buku-buku ilmu pengetahuanmu, pulangkan pada-Ku catatan-catatan amalmu, niscaya akan aku buka dengan kedua tangan-Ku, Kubuat ia berbuah dengan pemberkatan-Ku, dan akan kulebihkan semuanya itu karena kepemurahan-Ku.”
(Dari kitab ‘Al-Mawaqif wal Mukhtabat’, Imam An-Nifari, dengan beberapa kalimat yang diperbaiki tata bahasanya.)
Diposkan Oleh: http://wilayyahallah.blogspot.com/2011_03_10_archive.html
rasa itu gk bisa disebut....klu disebut bukan lagi rasa namany tp pengetahuan, pengetahuan yg hakiki sulit dperolah jk blm merasakannya...oleh karenanya bbahagialah bagi yang pernah merasakan cinta...karena sejatinya cinta itu melembutkan, menumbuhkan jiwa yg kasih dan sayang...sbagaimana syair yang dibuat oleh syekh Jalaludin Rumi:
Cinta mengubah kepahitan menjadi manis tanah dan tembaga menjadi emas yang keruh menjadi jernih si pesakitan menjadi sembuh penjara menjadi taman derita menjadi nikmat kekerasan menjadi kasih sayang
Cintalah yang telah melunakkan besi mencairkan batu membangkitkan yang mati meniupkan kehidupan pada jasad tak bernyawa mengangkat hamba menjadi sang majikan
Cinta bagaikan sayap dengannya manusia terbang di angkasa menggerakkan ikan menuju jala sang nelayan menghantar si kaya meraih bintang di langit ketujuh Cinta berjalan di gunung maka gunungpun bergoyang menari
Cinta itu kekayaan sejati takkan bersatu dengannya singgasana raja dan sultan siapa yang telah mencicipi takkan ada lagi anggur yang melebihi Cinta adalah raja diraja kekuasaan rajapun bersujud di hadapannya sultan dan khalifah menjadi budaknya
Cinta bagaikan penyakit tanpa obat setiap penderita meminta ditambahkan penderitaannya dengan suka cita mereka berharap kepedihan dan derita dilipatgandakan Takkan ada minuman di dunia yang manisnya melebihi racun ini Takkan ada lagi kesehatan di dunia yang lebih baik dari penyakit ini Cinta memanglah penyakit tetapi, penyakit yang menyembuhkan semua penyakit siapa saja yang pernah mengidapnya takkan pernah lagi menderita penyakit lain
Cinta adalah warisan Sang Adam sedangkan kecerdikan itu barang dagangan syetan tempat si cerdik dan bijaksana bersandar pada jiwa dan akalnya Cinta berarti penyerahan dri karena akal bagaikan seorang perenang yang terkadang sampai ke tepian sering juga tenggelam di tengah jalan Tak sebanding dengan Cinta ini ibarat bahtera Nuh yang terselamatkan
Tidak setiap kita berhak dicintai karena syarat dicintai adalah akhlak dan keutamaan namun ambil bagianmu sebagai pecinta dan nikmatillah Jika dirimu tidak menjadi yang dicintai maka jadilah yang mencintai
Ribuan tahun lalu, di Mesir hidup seorang bijak bernama Zun Nun. Suatu hari datang seorang pemuda kepada orang bijak tersebut dan bertanya "Guru, saya tidak mengerti mengapa orang seperti Anda berpakaian sedemikian rupa dan sangat sederhana, bukankah di jaman seperti ini penting berpakaian rapi, tidak hanya untuk penampilan tetapi juga untuk alasan lain?
Zun Nun hanya tersenyum. Tangan kanannya mengambil cincin dari salah satu jari kirinya. Lalu ia berkata "Anak muda, saya akan menjawab pertanyaanmu, tapi pertama-tama lakukan satu hal untukku, ambillah cincin ini dan pergilah ke pasar di seberang jalan ini. Dapatkah Anda menukar ini dengan satu keping emas?
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pria muda nampak ragu,, "Satu keping emas, Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu?"
"Cobalah dulu, anak muda, siapa tahu Anda bisa melakukannya”.
" Anak muda tersebut pergi ke pasar dengan cepat. Ia menawarkan cincin ke penjual baju, tukang sayur, daging, pedagang ikan, dan yang lainnya. Namun tak ada seorang pun yang bersedia menukarnya dengan sekeping emas. Anak muda itupun lalu kembali ke Zun-Nun dan melaporkan usahanya "Guru, tidak ada satupun yang berani menukarnya lebih dari satu keping perak."
Dengan senyum bijak Zun Nun berkata, "Sekarang pergi ke Toko Emas di belakang jalan ini, tunjukkan kepada pemilik atau pedagang emas. Jangan memberi penawaran harga. Kamu hanya perlu mendengar berapa banyak dia akan membayar untuk cincin ini."
Orang muda pergi ke toko tersebut lalu ia kembali dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya. Dia kemudian melaporkan "Guru, para pedagang di pasar benar-benar tidak tahu berapa nilai cincin ini. Pedagang emas menawarkan cincin ini untuk seribu keping emas. Nilai cincin ini ribuan kali dari yang pedagang di pasar tawarkan.
Zun Nun hanya tersenyum dan berbicara dengan lembut, "Itulah jawaban dari pertanyaanmu temanku," Seseorang tidak bisa menjadi nilai hanya dari pakaiannya "Para pedagang di pasar" memberikan nilai seperti itu.
Tapi bagi pedagang Emas dan Intan dalam seseorang hanya bisa dilihat dan nilai jika Anda bisa melihat kandungan di dalamnya. Seperti ini perlu hati untuk melihat, dan itu butuh proses. Kita tidak bisa melihatnya dari kata-kata atau sikap yang hanya nampak untuk sementara waktu. Butuh banyak untuk menilai apakah emas sebenarnya hanya kuningan, atau kuningan justru adalah emas.
Apa Istikharah itu?
Secara Bahasa berarti memohon sesuatu pilihan. Mohon petunjuk kepada Alloh untuk memilih, maka Allah memilihkan untukmu.
Secara Istilah : Memohon pilihan penting yang dipilih Allaah, pertama dengan shalat, dan berdo’a dengan do’a istikharah.
Yaitu memohon petunjuk suatu pilihan menjadi dalam suatu urusan, yaitu memohon petunjuk untuk memilih salah satu dari dua pilihan yang dibutuhkan.
Hukumnya:
Ulama sepakat bahwa Istikharah hukumnya sunat, berdasar dalil syareat dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Jabir ra.
Kapan Orang memerlukan Istikharah?
Kapan saja seorang hamba memerlukannya, karena ia selalu berhadapan dengan berbagai bentuk persoalan dan pilihan, karena untuk memilih yang terbaik buat dirinya, dunianya dan akheratnya seorang hamba itu tidak tahu mana yang terbaik, maka ia memerlukan petunjuk kepada Alloh yang mengetahui segala rahasia hidup dan pilihan yang terbaik baginya. Kadang apa yang disenangi seorang hamba itu tidak baik buat dirinya, atau yang ia benci itu baik buat dirinya, semua itu ia tidak tahu, maka kepada Alloh-lah seorang hamba wajib memohon petunjuk untuk pilihan yang terbaik.
Do’a Shalat Istikharah.
عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا الاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ : إذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ : ( اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلا أَقْدِرُ , وَتَعْلَمُ وَلا أَعْلَمُ , وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ , اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (هنا تسمي حاجتك ) خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ : عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ , اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (هنا تسمي حاجتك ) شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ : عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ , فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ . وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ ) وَفِي رواية ( ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ( رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ (1166)
Dari Jabir ra ia berkata: Bahwasanya Rasulullaah saw mengajarkan kepada kami memohon petunjuk pilihan pada semua urusan sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al Quran, beliau saw bersabda:
“Bila salah seorang dari kalian ada kepentingan dalam suatu urusan maka shalatlah 2 rakaat selain shalat wajib kemudian (sesudahnya) agar membaca do’a:
Allaahumma innii astakhiiruka bi’ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika wa as-aluka min fadhlikal ‘azhiim, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyuub, Allaahumma inkunta ta’ lamu anna haadzal amra (disini sebutkan hajadmu) khairullii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii ‘aajili amri wa aajilihi faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma baarik lii fiihi Allaahumma inkunta ta’ lamu anna haadzal amra (disini sebutkan hajadmu) syarrullii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii ‘aajili amri wa aajilihi fashrifhu ‘annii washrifnii ‘anhu waqdurhuliyal khaira haitsu kaana tsumma radh-dhinii bihi.
Terjemah Doa :
Ya Alloh sungguh aku memohon untuk memilih kepadamu dengan ilmu-Mu, dan aku memohon dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon dari anugerahmu yang agung, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa, dan aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui dan aku tidak tahu, dan Engkau yang Maha mengetahui yang ghaib, Ya Alloh bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini ………baik untukku, untuk agamaku, dan baik akibat kehidupanku dalam jangka dekat maupun jauh maka kuasakanlah aku atasnya, dan mudahkanlah untukku kemudian berkahilah di dalamnya untukku, Ya Alloh bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini ………jelek untukku, untuk agamaku, dan akibat kehidupanku dalam jangka dekat maupun jauh maka hindarkanlah aku darinya, dan hjindarkanlah ia dariku dan berilah kuasa untukku yang terbaik dimana saja dan ridhailah aku dengannya.
Cara Pengamalan:
Do’a istikharah dibaca sesudah shalat sunat Istikharah 2 rakaat ba’da salam, diawali dengan berdzikir untuk memuji Alloh dengan bacaan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil, membaca shalawat nabi seperti bacaan shalawat dalam shalat, dan kemudian membaca do’a istikharah.
Amalan ini bila belum yakin bisa diulang pada malam berikutnya hingga 3 malam hingga mendapat petunjuk dari Alloh SWT berupa kemantapan hati atas pilihannya, atau ada petunjuk berupa mimpi dan lain-lain.
“Sesudah istikharah haruslah mengerjakan apa yang dirasa lebih baik untuk diri dan hendaknya bebas benar-benar dari kehendak pribadi. Jadi jangan sampai lebih mengutamakan sesuatu yang dirasakan baik pada waktu sebelum beristikharah, sebab kalau demikian, maka sama halnya dengan tidak beristikharah kepada Allah atau kurang penyerahan terhadap pengetahuan serta kekuasaan Allah. Kesungguhan hati dalam memohon pilihan Allah, artinya seseorang harus meninggalkan sepenuhnya apa yang dihasratkannya.”
Mereka, lelaki & perempuan, yang mempunyai komitmen untuk menyempurnakan sebagian dari agamnya. Melalui perkenalan yang singkat mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju ke peminangan. Sang lelaki sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan. Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktif di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda. Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya. Maka di suatu pagi, di sebuah rumah, seorang lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk 'merebut' sang perempuan muda, dari sisinya.
"Oh, jadi kau akan melamar anakku?" tanya sang laki-laki setengah baya.
"Iya, Pak," jawab sang pemuda.
"Engkau telah mengenalnya dalam-dalam?" tanya sang laki-laki setengah baya sambil menunjuk si perempuan.
"Ya Pak, sangat mengenalnya, " jawab sang pemuda mencoba meyakinkan.
"Aku tolak lamaranmu. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu! Bukankah Islam tidak mengenal istilah pacaran?" balas sang laki-laki setengah baya.
Si pemuda tergagap, "Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu. Semenjak kami berkenalan, kami baru 3 kali bertemu."
"Aku tolak lamaranmu. Itu serasa 'membeli kucing dalam karung' kan, aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak terlalu mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?" balas sang setengah baya, keras.
Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda. Bisiknya, "Ayah, dia dulu aktivis lho."
"Kamu dulu aktivis ya?" tanya sang setengah baya.
"Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di kampus," jawab sang pemuda, percaya diri.
"Aku tolak lamaranmu. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?"
"Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat."
"Aku tolak lamaranmu. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?"
Sang perempuan membisik lagi, membantu, "Ayah, dia pinter lho."
"Kamu lulusan mana?"
"Saya lulusan Matematika Sebuah Universitas Negeri ternama Pak. Universitas itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan SMA ini tho? Menganggap saya bodoh kan?"
"Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak."
"Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?"
Bisikan itu datang lagi, "Ayah dia sudah bekerja lho."
"Jadi kamu sudah bekerja?"
"Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu."
"Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku."
"Lamaranmu tetap aku tolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?"
Bisikan kembali, "Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya."
"Rencananya maharmu apa?"
"Seperangkat alat shalat Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Maaf, kami sudah punya banyak banget. Kalau tidak percaya, lihat saja di lemari".
"Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang lima puluh juta rupiah Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Kau pikir aku itu matre. Menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku."
Bisikan itu datang lagi, "Dia jago IT lho Pak"
"Kamu bisa internet?"
"Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net."
"Aku tolak lamaranmu. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata."
"Tapi saya nge-net cuma ngecek imel saja kok Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu."
Sang gadis berkata, "Tapi Ayah..."
Sang laki-laki paruh baya langsung berkata kepada laki-laki muda, "Kamu kesini tadi naik apa?"
"Mobil Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya riya'. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik."
"Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir"
"Aku tolak lamaranmu. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?"
Sang gadis berkata, "Ayahh.."
Sang ayah berkata, "Kamu merasa ganteng ya?"
"Nggak Pak. Biasa saja kok"
"Aku tolak lamaranmu. Mbok yo kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini."
"Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak."
"Aku tolak lamaranmu. Kamu berpotensi menjadi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!"
Sang perempuan kini berkaca-kaca, "Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?"
Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.
"Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Hadits?"
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga. Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, "Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits pun cuma dari Arba'in yang terpendek pula."
Sang setengah lelaki setengah baya tersenyum, "Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih."
Mata sang Pemuda ikut berkaca-kaca...
(Diambil dari blog tetangga, sebagai bahan update dengan editing seperlunya...)
SEBAHAGIAN DARIPADA TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL (PERBUATAN ZAHIR) ADALAH BERKURANGAN HARAPANNYA (SUASANA HATI) TATKALA BERLAKU PADANYA KESALAHAN.
Imam Ibnu Athaillah memulakan Kalam Hikmat beliau dengan mengajak kita merenung kepada hakikat amal. Amal boleh dibahagikan kepada dua jenis iaitu perbuatan zahir dan perbuatan hati atau suasana hati berhubung dengan perbuatan zahir itu. Beberapa orang boleh melakukan perbuatan zahir yang serupa tetapi suasana hati berhubung dengan perbuatan zahir itu tidak serupa. Kesan amalan zahir kepada hati berbeza antara seorang dengan seorang yang lain. Jika amalan zahir itu mempengaruhi suasana hati, maka hati itu dikatakan bersandar kepada amalan zahir. Jika hati dipengaruhi juga oleh amalan hati, maka hati itu dikatakan bersandar juga kepada amal, sekalipun ianya amalan batin. Hati yang bebas daripada bersandar kepada amal sama ada amal zahir atau amal batin adalah hati yang menghadap kepada Allah s.w.t dan meletakkan pergantungan kepada-Nya tanpa membawa sebarang amal, zahir atau batin, serta menyerah sepenuhnya kepada Allah s.w.t tanpa sebarang takwil atau tuntutan. Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya, zahir dan batin, walau berapa banyak sekalipun, sebagai alat untuk tawar menawar dengan Tuhan bagi mendapatkan sesuatu. Amalan tidak menjadi perantaraan di antaranya dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membataskan kekuasaan dan kemurahan Tuhan untuk tunduk kepada perbuatan manusia. Allah s.w.t Yang Maha Berdiri Dengan Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi oleh sesiapa dan sesuatu. Apa sahaja yang mengenai Allah s.w.t adalah mutlak, tiada had, sempadan dan perbatasan. Oleh kerana itu orang arif tidak menjadikan amalan sebagai sempadan yang mengongkong ketuhanan Allah s.w.t atau ‘memaksa’ Allah s.w.t berbuat sesuatu menurut perbuatan makhluk. Perbuatan Allah s.w.t berada di hadapan dan perbuatan makhluk di belakang. Tidak pernah terjadi Allah s.w.t mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu.Sebelum menjadi seorang yang arif, hati manusia memang berhubung rapat dengan amalan dirinya, baik yang zahir mahu pun yang batin. Manusia yang kuat bersandar kepada amalan zahir adalah mereka yang mencari faedah keduniaan dan mereka yang kuat bersandar kepada amalan batin adalah yang mencari faedah akhirat. Kedua-dua jenis manusia tersebut berkepercayaan bahawa amalannya menentukan apa yang mereka akan perolehi baik di dunia dan juga di akhirat. Kepercayaan yang demikian kadang-kadang membuat manusia hilang atau kurang pergantungan dengan Tuhan. Pergantungan mereka hanyalah kepada amalan semata-mata ataupun jika mereka bergantung kepada Allah s.w.t, pergantungan itu bercampur dengan keraguan. Seseorang manusia boleh memeriksa diri sendiri apakah kuat atau lemah pergantungannya kepada Allah s.w.t. Kalam Hikmat 1 yang dikeluarkan oleh Ibnu Athaillah memberi petunjuk mengenainya. Lihatlah kepada hati apabila kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika kesalahan yang demikian membuat kita berputus asa daripada rahmat dan pertolongan Allah s.w.t itu tandanya pergantungan kita kepada-Nya sangat lemah. Firman-Nya: “Wahai anak-anakku! Pergilah dan intiplah khabar berita mengenai Yusuf dan saudaranya (Bunyamin), dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah melainkan kaum yang kafir ”. ( Ayat 87 : Surah Yusuf )
Ayat di atas menceritakan bahawa orang yang beriman kepada Allah s.w.t meletakkan pergantungan kepada-Nya walau dalam keadaan bagaimana sekali pun. Pergantungan kepada Allah s.w.t membuat hati tidak berputus asa dalam menghadapi dugaan hidup. Kadang-kadang apa yang diingini, dirancangkan dan diusahakan tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Kegagalan mendapatkan sesuatu yang diingini bukan bermakna tidak menerima pemberian Allah s.w.t. Selagi seseorang itu beriman dan bergantung kepada-Nya selagi itulah Dia melimpahkan rahmat-Nya. Kegagalan memperolehi apa yang dihajatkan bukan bermakna tidak mendapat rahmat Allah s.w.t. Apa juga yang Allah s.w.t lakukan kepada orang yang beriman pasti terdapat rahmat-Nya, walaupun dalam soal tidak menyampaikan hajatnya. Keyakinan terhadap yang demikian menjadikan orang yang beriman tabah menghadapi ujian hidup, tidak sekali-kali berputus asa. Mereka yakin bahawa apabila mereka sandarkan segala perkara kepada Allah s.w.t, maka apa juga amal kebaikan yang mereka lakukan tidak akan menjadi sia-sia.
Orang yang tidak beriman kepada Allah s.w.t berada dalam situasi yang berbeza. Pergantungan mereka hanya tertuju kepada amalan mereka, yang terkandung di dalamnya ilmu dan usaha. Apabila mereka mengadakan sesuatu usaha berdasarkan kebolehan dan pengetahuan yang mereka ada, mereka mengharapkan akan mendapat hasil yang setimpal. Jika ilmu dan usaha (termasuklah pertolongan orang lain) gagal mendatangkan hasil, mereka tidak mempunyai tempat bersandar lagi. Jadilah mereka orang yang berputus asa. Mereka tidak dapat melihat hikmat kebijaksanaan Allah s.w.t mengatur perjalanan takdir dan mereka tidak mendapat rahmat dari-Nya.
Jika orang kafir tidak bersandar kepada Allah s.w.t dan mudah berputus asa, di kalangan sebahagian orang Islam juga ada yang demikian, bergantung setakat mana sifatnya menyerupai sifat orang kafir. Orang yang seperti ini melakukan amalan kerana kepentingan diri sendiri, bukan kerana Allah s.w.t. Orang ini mungkin mengharapkan dengan amalannya itu dia dapat mengecapi kemakmuran hidup di dunia.Dia mengharapkan semoga amal kebajikan yang dilakukannya dapat mengeluarkan hasil dalam bentuk bertambah rezekinya, kedudukannya atau pangkatnya, orang lain semakin menghormatinya dan dia juga dihindarkan daripada bala penyakit, kemiskinan dan sebagainya. Bertambah banyak amal kebaikan yang dilakukannya bertambah besarlah harapan dan keyakinannya tentang kesejahteraan hidupnya.
Sebahagian kaum muslimin yang lain mengaitkan amal kebaikan dengan kemuliaan hidup di akhirat. Mereka memandang amal salih sebagai tiket untuk memasuki syurga, juga bagi menjauhkan azab api neraka. Kerohanian orang yang bersandar kepada amal sangat lemah, terutamanya mereka yang mencari keuntungan keduniaan dengan amal mereka. Mereka tidak tahan menempuh ujian. Mereka mengharapkan perjalanan hidup mereka sentiasa selesa dan segala-segalanya berjalan menurut apa yang dirancangkan. Apabila sesuatu itu berlaku di luar jangkaan, mereka cepat naik panik dan gelisah. Bala bencana membuat mereka merasakan yang merekalah manusia yang paling malang di atas muka bumi ini. Bila berjaya memperoleh sesuatu kebaikan, mereka merasakan kejayaan itu disebabkan kepandaian dan kebolehan mereka sendiri. Mereka mudah menjadi ego serta suka menyombong.
Apabila rohani seseorang bertambah teguh dia melihat amal itu sebagai jalan untuknya mendekatkan diri dengan Tuhan. Hatinya tidak lagi cenderung kepada faedah duniawi dan ukhrawi tetapi dia berharap untuk mendapatkan kurniaan Allah s.w.t seperti terbuka hijab-hijab yang menutupi hatinya. Orang ini merasakan amalnya yang membawanya kepada Tuhan. Dia sering mengaitkan pencapaiannya dalam bidang kerohanian dengan amal yang banyak dilakukannya seperti berzikir, bersembahyang sunat, berpuasa dan lain-lain. Bila dia tertinggal melakukan sesuatu amal yang biasa dilakukannya atau bila dia tergelincir melakukan kesalahan maka dia berasa dijauhkan oleh Tuhan. Inilah orang yang pada peringkat permulaan mendekatkan dirinya dengan Tuhan melalui amalan tarekat tasauf.
Jadi, ada golongan yang bersandar kepada amal semata-mata dan ada pula golongan yang bersandar kepada Tuhan melalui amal. Kedua-dua golongan tersebut berpegang kepada keberkesanan amal dalam mendapatkan sesuatu. Golongan pertama kuat berpegang kepada amal zahir, iaitu perbuatan zahir yang dinamakan usaha atau ikhtiar. Jika mereka tersalah memilih ikhtiar, hilanglah harapan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka hajatkan. Ahli tarekat yang masih diperingkat permulaan pula kuat bersandar kepada amalan batin seperti sembahyang dan berzikir. Jika mereka tertinggal melakukan sesuatu amalan yang biasa mereka lakukan, akan berkurangan harapan mereka untuk mendapatkan anugerah dari Allah s.w.t. Sekiranya mereka tergelincir melakukan dosa, akan putuslah harapan mereka untuk mendapatkan anugerah Allah s.w.t.
Dalam perkara bersandar kepada amal ini, termasuklah juga bersandar kepada ilmu, sama ada ilmu zahir atau ilmu batin. Ilmu zahir adalah ilmu pentadbiran dan pengurusan sesuatu perkara menurut kekuatan akal. Ilmu batin pula adalah ilmu yang menggunakan kekuatan dalaman bagi menyampaikan hajat. Ia termasuklah penggunaan ayat-ayat al-Quran dan jampi. Kebanyakan orang meletakkan keberkesanan kepada ayat, jampi dan usaha, hinggakan mereka lupa kepada Allah s.w.t yang meletakkan keberkesanan kepada tiap sesuatu itu.
Seterusnya, sekiranya Tuhan izinkan, kerohanian seseorang meningkat kepada makam yang lebih tinggi. Nyata di dalam hatinya maksud kalimat:
Tiada daya dan upaya kecuali beserta Allah. “Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu!” ( Ayat 96 : Surah as- Saaffaat )
Orang yang di dalam makam ini tidak lagi melihat kepada amalnya, walaupun banyak amal yang dilakukannya namun, hatinya tetap melihat bahawa semua amalan tersebut adalah kurniaan Allah s.w.t kepadanya. Jika tidak kerana taufik dan hidayat dari Allah s.w.t tentu tidak ada amal kebaikan yang dapat dilakukannya. Allah s.w.t berfirman: “Ini ialah dari limpah kurnia Tuhanku, untuk mengujiku adakah aku bersyukur atau aku tidak mengenangkan nikmat pemberian-Nya. Dan (sebenarnya) sesiapa yang bersyukur maka faedah syukurnya itu hanyalah terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang tidak bersyukur (maka tidaklah menjadi masalah kepada Allah), kerana sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, lagi Maha Pemurah”. ( Ayat 40 : Surah an-Naml ) Dan tiadalah kamu berkemahuan (melakukan sesuatu perkara) melainkan dengan cara yang dikehendaki Allah; sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana (mengaturkan sebarang perkara yang dikehendaki-Nya). Ia memasukkan sesiapa yang kehendaki-Nya (menurut aturan yang ditetapkan) ke dalam rahmat-Nya (dengan ditempatkan-Nya di dalam syurga); dan orang-orang yang zalim, Ia menyediakan untuk mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya. ( Ayat 30 & 31 : Surah al-Insaan )
Segala-galanya adalah kurniaan Allah s.w.t dan menjadi milik-Nya. Orang ini melihat kepada takdir yang Allah s.w.t tentukan, tidak terlihat olehnya keberkesanan perbuatan makhluk termasuklah perbuatan dirinya sendiri. Makam ini dinamakan makam ariffin iaitu orang yang mengenal Allah s.w.t. Golongan ini tidak lagi bersandar kepada amal namun, merekalah yang paling kuat mengerjakan amal ibadat.
Orang yang masuk ke dalam lautan takdir, reda dengan segala yang ditentukan Allah s.w.t, akan sentiasa tenang, tidak berdukacita bila kehilangan atau ketiadaan sesuatu. Mereka tidak melihat makhluk sebagai penyebab atau pengeluar kesan.
Di awal perjalanan menuju Allah s.w.t, seseorang itu kuat beramal menurut tuntutan syariat. Dia melihat amalan itu sebagai kenderaan yang boleh membawanya hampir dengan Allah s.w.t. Semakin kuat dia beramal semakin besarlah harapannya untuk berjaya dalam perjalanannya. Apabila dia mencapai satu tahap, pandangan mata hatinya terhadap amal mula berubah. Dia tidak lagi melihat amalan sebagai alat atau penyebab. Pandangannya beralih kepada kurniaan Allah s.w.t. Dia melihat semua amalannya adalah kurniaan Allah s.w.t kepadanya dan kehampirannya dengan Allah s.w.t juga kurniaan-Nya. Seterusnya terbuka hijab yang menutupi dirinya dan dia mengenali dirinya dan mengenali Tuhannya. Dia melihat dirinya sangat lemah, hina, jahil, serba kekurangan dan faqir. Tuhan adalah Maha Kaya, Berkuasa, Mulia, Bijaksana dan Sempurna dalam segala segi. Bila dia sudah mengenali dirinya dan Tuhannya, pandangan mata hatinya tertuju kepada Kudrat dan Iradat Allah s.w.t yang menerajui segala sesuatu dalam alam maya ini. Jadilah dia seorang arif yang sentiasa memandang kepada Allah s.w.t, berserah diri kepada-Nya, bergantung dan berhajat kepada-Nya. Dia hanyalah hamba Allah s.w.t yang faqir. http://alhikam0.tripod.com/hikam001.html
Ada kesamaan antara Sufisme dan teori kuantum. Suatu cara memandang dunia yang sangat mirip diantara para sufi dan ahli fisika modern. Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang mekanistik, bagi para sufi segala sesuatu dan peristiwa dirasakan saling terkait, terhubung, dan ini adalah aspek atau manifestasi berbeda dari realitas yang sama. Bagi para sufi “Pencerahan” adalah sebuah pengalaman untuk menjadi sadar akan kesatuan dan saling keterkaitan segala sesuatu, untuk mengabaikan gagasan tentang diri individu yang saling terpisah, dan untuk mengidentifikasi diri dengan realitas tertinggi.
Ilmu pengetahuan selalu diungkapkan dalam bahasa matematika modern yang sangat canggih, sedangkan tasawuf didasarkan pada meditasi dan menegaskan fakta bahwa pandangan para sufi tidak dapat dikomunikasikan secara verbal. Realitas seperti yang dialami oleh para Sufi benar-benar tak terdefinisikan dan tidak bisa dibeda-bedakan. Para Sufi tidak pernah melihat logika sebagai sumber pengetahuan, tetapi menggunakannya hanya untuk menganalisis dan menafsirkan pengalaman tasawuf pribadi mereka. Kesamaan antara eksperimen ilmiah dan pengalaman-pengalaman tasawuf mungkin tampak mengejutkan mengingat sifat dan cara pengamatan yang sangat berbeda ini. Fisikawan melakukan eksperimen yang melibatkan kerja sama tim yang rumit dan teknologi yang sangat canggih, sedangkan para sufi memperoleh pengetahuan mereka murni melalui introspeksi, tanpa mesin, dalam meditasi atau Dzikir. Untuk bisa melakukan percobaan tentang partikel dasar fisika modern seseorang harus menjalani pelatihan bertahun-tahun. Demikian pula, pengalaman tasawuf yang mendalam memerlukan, secara umum, pelatihan bertahun-tahun di bawah guru yang berpengalaman. Kompleksitas dan efisiensi dari fisikawan dan Sufi secara garis besar mirip, dengan kesadaran mistik-baik fisik maupun spiritual di dalam Dzikir yang mendalam. Dengan demikian para ilmuwan dan para Sufi telah mengembangkan metode yang sangat canggih dalam mengamati alam yang tidak dapat diakses oleh orang awam.
Dzikir
Tujuan dasar Dzikir adalah untuk menghentikan pikiran untuk menggeser kesadaran dari rasional ke modus intuitif kesadaran. Penghentian pikiran dicapai dengan memusatkan perhatian pada satu hal, seperti napas, suara Allah atau La ilaha illa Allah. Bahkan melakukan shalat dianggap sebagai Dzikir untuk membungkam pikiran rasional. Jadi Shalat mengarah pada perasaan damai dan ketenangan yang menjadi ciri dari bentuk yang lebih statis dari Dzikir. Keterampilan ini digunakan sebagai cara untuk mengembangkan meditasi kesadaran. Dalam Dzikir, pikiran dikosongkan dari semua pikiran dan konsep-konsep dan dengan demikian siap untuk memfungsikan modus intuitif untuk jangka panjang. Ketika pikiran rasional dibungkam, modus intuitif menghasilkan kesadaran yang luar biasa; sekitar kita akan dialami dalam cara langsung tanpa filter pemikiran konseptual. Pengalaman kesatuan dengan keseluruhan merupakan ciri utama kondisi meditasi ini. Ini adalah keadaan kesadaran di mana setiap bentuk fragmentasi telah berhenti, memudar menjadi kesatuan yang tidak bisa dibedakan.
Pandangan Menuju realitas
Sufisme didasarkan pada wawasan langsung terhadap hakikat realitas sedangkan fisika didasarkan pada pengamatan fenomena alam dalam percobaan ilmiah. Dalam fisika, model dan teori-teori didasarkan pada perkiraan dan penelitian ilmiah modern. Dengan demikian ungkapan Einstein, “Sejauh hukum-hukum matematika merujuk pada realitas, mereka menjadi tidak pasti; tetapi sejauh mereka pasti, mereka tidak mengacu pada realitas.” Setiap esensi alam dari sesuatu dianalisis oleh intelek, selalu tampak absurd atau paradoksal. Ini selalu diakui oleh para sufi, tetapi telah menjadi masalah bagi sains hingga baru-baru ini, yaitu temuan tentang cahaya yang bisa dianggap sebagai gelombang atau foton atau yang disebut dualitas cahaya. Berbagai fenomena alam ini menjadi subjek bagi para ilmuwan makroskopik dan dengan demikian menjadi pengalaman dunia indrawi mereka. Karena gambar dan konsep-konsep intelektual dari bahasa mereka yang disarikan berdasarkan pengalaman ini, sudah cukup dan memadai untuk menggambarkan fenomena alam. Namun dunia atom dan subatomik itu sendiri terletak di luar persepsi indrawi kita. Pengetahuan tentang materi pada tingkat ini tidak lagi berasal dari pengalaman indrawi langsung, bahasa sehari-hari kita, yang digambarkan oleh indra, tidak lagi memadai untuk menggambarkan fenomena yang diamati. Ketika kita menembus lebih dalam dan lebih dalam ke alam, kita harus meninggalkan konsep-konsep umum kita. Menyelidik lebih dalam tentang atom dan menyelidiki strukturnya, melampaui batas-batas ilmu imajinasi indrawi kita. Dari titik ini, kita tidak lagi bisa mengandalkan kepastian yang mutlak pada logika dan akal sehat. Fisika kuantum menyediakan para ilmuwan sekilas sifat esensial dari segala sesuatu. Seperti para Sufi, fisikawan kini berurusan dengan pengalaman nonindrawi dari realitas dan, seperti halnya kaum sufi, mereka harus menghadapi aspek paradoks dari pengalaman ini. Sejak saat itu, model, dan gambar fisika modern menjadi sama dengan gambaran tasawuf dari para sufi.
Masalah Komunikasi
Para ilmuwan menyadari bahwa bahasa umum kita tidak hanya tidak akurat, tapi sama sekali tidak memadai untuk menggambarkan realitas atom dan subatom. Dengan munculnya Relativitas dan Mekanika kuantum dalam fisika modern sangat jelas bahwa pengetahuan baru ini melampaui logika klasik dan bahwa hal itu tidak dapat lagi dijelaskan dalam bahasa biasa. Demikian pula halnya dalam tasawuf, selalu menyadari bahwa realitas melampaui bahasa umum dan kaum sufi tidak takut melampaui logika dan konsep-konsep umum. Masalah bahasa yang dihadapi oleh kaum sufi adalah persis sama seperti masalah yang dihadapi oleh fisikawan modern. Baik fisikawan dan para sufi ingin mengkomunikasikan pengetahuan mereka, dan ketika mereka melakukannya, pernyataan mereka adalah paradoks dan penuh dengan kontradiksi dengan pikiran logis. Paradoks ini adalah karakteristik dari semua yang mempraktikkan tasawuf dan sejak awal abad ke-20 adalah juga karakteristik fisika modern.
Dualitas dari Cahaya
Dalam Fisika Kuantum, banyak situasi paradoksal berhubungan dengan sifat ganda dari cahaya atau – yang lebih umum – radiasi elektromagnetik. Cahaya menghasilkan fenomena gangguan, yang diasosiasikan dengan gelombang cahaya. Hal ini diamati ketika dua sumber cahaya yang digunakan menghasilkan pola cahaya yang terang dan redup. Di sisi lain, radiasi elektromagnetik juga menghasilkan efek “fotolistrik”: ketika panjang gelombang cahaya yang pendek seperti sinar ultraviolet atau sinar X atau sinar gamma menabrak permukaan beberapa logam, mereka bisa “memantulkan” elektron dari permukaan logam, dan karena itu harus terdiri dari partikel yang bergerak. Pertanyaan yang begitu banyak membingungkan para fisikawan dalam tahap-tahap awal adalah bagaimana teori kuantum dan radiasi elektromagnetik secara bersamaan bisa terdiri dari partikel (yaitu entitas terbatas pada volume yang sangat kecil) dan gelombang, yang tersebar di area yang luas dalam ruang. Tidak ada baik bahasa maupun imajinasi yang bisa menghadapi realitas semacam ini dengan sangat baik. Sufisme telah mengembangkan beberapa cara yang berbeda berhubungan dengan aspek-aspek paradoksal dari realitas. Karya-karya Attar, Hafiz, Ibnu Arabi, Rumi, al Bustami, dll menunjukkan bahwa mereka penuh dengan kontradiksi dan bahasa yang menarik dan kompak, kuat, dan sangat puitis ini dimaksudkan untuk menangkap pikiran pembaca dan keluar dari trek yang biasa dari logika nalar. Heisenberg bertanya pada Bohr: Apakah mungkin bahwa alam sesungguhnya adalah sangat absurd seperti yang terlihat dalam eksperimen atomik ini?
Setiap kali sifat esensial segala sesuatu dianalisis oleh intelek, akan terlihat absurd atau paradoksal. Hal ini selalu diakui oleh para sufi, tetapi telah menjadi masalah dalam ilmu pengetahuan di abad 20. Dunia makroskopik saat itu masih bedasarkan pengalaman indrawi kita. Melalui pengalaman indrawi orang dapat menggambar sebuah gambar, dan mengekspresikan konsep-konsep intelektual dalam bahasa mereka. Bahasa ini sudah cukup dan memadai untuk menggambarkan fenomena alam. Model mekanistik Newton tentang alam semesta telah dianggap bisa menjelaskan makroskopik dunia. Pada abad ke-20 keberadaan atom dan partikel subatom atau “blok bangunan” dasar telah mulai diverifikasi secara eksperimental. Dunia Subatomik dan atom itu sendiri ternyata terletak di luar persepsi indrawi kita. Pengetahuan tentang materi pada tingkat ini tidak lagi berasal dari pengalaman indrawi langsung, dan karenanya bahasa sehari-hari kita, tidak lagi memadai untuk menggambarkan fenomena yang diamati. Ketika kita menembus lebih dalam dan lebih dalam ke fenomena alam, kita harus meninggalkan lebih dan lebih banyak gambar dan konsep bahasa biasa. Dari titik ini, kita tidak bisa lagi mengandalkan kepastian yang mutlak pada logika dan akal sehat. Fisika kuantum memberikan kesan pertama kali bagi para ilmuwan dalam melihat sifat esensial segala sesuatu. Seperti halnya para Sufi para ahli fisika kini berurusan dengan pengalaman nonindrawi realitas dan, seperti kaum sufi, mereka harus menghadapi aspek paradoks pengalaman ini.
FISIKA MODERN
Menurut para sufi, pengalaman mistik langsung dari realitas adalah peristiwa yang sangat mengguncang dasar-dasar pandangan dunia seseorang, bahwa ini adalah peristiwa yang paling mengejutkan yang bisa terjadi dalam alam kesadaran manusia (sebagai-Zuhud). Melewati semua bentuk pengalaman standar.
Fisikawan di awal abad ke-20 merasa sama takjubnya ketika dasar-dasar pandangan dunia mereka terguncang oleh pengalaman baru dari realitas atom, dan mereka menggambarkan pengalaman ini dalam istilah-istilah yang sangat mirip dengan yang digunakan oleh para Sufi. Jadi Heisenberg menulis: “… perkembangan terakhir di fisika modern hanya dapat dimengerti ketika seseorang menyadari bahwa di sini dasar-dasar fisika sudah mulai bergerak; dan bahwa gerakan ini telah menyebabkan perasaan bahwa ini telah memotong dasar dari ilmu pengetahuan.” Penemuan fisika modern mengharuskan perubahan mendasar dari konsep-konsep seperti ruang, waktu, materi, objek, sebab dan akibat, dll, dan konsep-konsep ini telah begitu mendasar dalam cara kita memandang dunia, bahwa ahli fisika yang dipaksa untuk mengubahnya akan merasakan sesuatu yang mengejutkan. Perubahan yang baru dan radikal tentang pandangan dunia yang berbeda telah lahir dan masih dalam proses pembentukan. Teori kuantum memaksa kita untuk melihat alam semesta bukan sebagai koleksi benda-benda fisik, tapi lebih sebagai jaringan rumit yang saling berhubungan antara berbagai bagian dari suatu kesatuan yang utuh. Ini adalah cara para Sufi telah mengalami dunia.
Ruang-waktu
Para sufi Tampaknya dapat mencapai keadaan kesadaran nonordinary (Zuhud) di mana mereka melampaui dunia tiga dimensi kehidupan sehari-hari dan mengalami realitas multidimensi yang lebih tinggi. Dalam fisika relativistik jika seseorang dapat memvisualisasikan realitas empat dimensi ruang-waktu, tidak akan ada paradoks sama sekali. Para sufi memiliki pengertian tentang ruang dan waktu, yang sangat mirip dengan yang ditunjukkan oleh teori relativitas. Dalam tasawuf, tampaknya ada intuisi yang kuat untuk karakter dari realitas “ruang-waktu”. Para Sufi telah mengalami keadaan lengkap kekosongan(Fana) di mana tidak ada lagi perbedaan antara pikiran dan tubuh, subyek dan obyek. Dalam keadaan pengalaman murni, tidak ada ruang tanpa waktu, tidak ada waktu tanpa ruang, mereka yang saling. Bagi fisikawan gagasan ruang-waktu ini didasarkan pada eksperimen ilmiah sedangkan bagi para Sufi itu didasarkan pada tasawuf. Model yang relativistik dan teori-teori fisika modern adalah ilustrasi dari dua elemen dasar pandangan dunia tasawuf- Tahwid alam semesta dan karakter dinamis yang intrinsik. Ruang yang melengkung dalam beberapa tingkatan, dan waktu mengalir dengan kecepatan yang berbeda di berbagai bagian dari alam semesta. Pemahaman kita tentang tiga-dimensi ruang Euclides dan aliran linear waktu yang terbatas pada pengalaman kita sehari-hari dunia fisik harus sepenuhnya ditinggalkan ketika kita memperluas pengalaman ini. Para Sufi berbicara tentang perluasan dari pengalaman mereka di dunia dalam keadaan kesadaran yang lebih tinggi, dan mereka menegaskan bahwa kondisi ini melibatkan pengalaman yang sangat berbeda tentang ruang dan waktu. Mereka menekankan bahwa mereka tidak hanya melampaui ruang tiga dimensi biasa dalam meditasi, tetapi juga – dan bahkan lebih kuat-bahwa kesadaran umum kita tentang waktu akan dilampaui. Mereka akan merasakan kehadiran tak terbatas, abadi, namun dinamis. Dalam dunia spiritual tidak ada pemisahan waktu seperti masa lalu, sekarang dan masa depan, karena mereka telah menyatu menjadi satu momen kehidupan masa kini dalam arti sebenarnya.
Kesetaraan MASSA-ENERGI
Einstein menunjukkan kesetaraan massa-energi, melalui persamaan matematis sederhana, E = mc * 2. Fisikawan mengukur massa partikel dalam satuan energi yang sesuai. Massa tidak lain hanyalah salah satu bentuk energi. Penemuan ini telah memaksa kita untuk mengubah konsep kita tentang partikel dalam cara yang lebih mendasar. Oleh karena itu partikel dianggap sebagai “Quanta” atau kumpulan energi. Jadi partikel tidak dilihat sebagai terdiri dari berbagai dasar “materi.” Tetapi energi yang dikaitkan dengan aktivitas, dengan proses, yang berarti bahwa sifat partikel subatom secara intrinsik dinamis dan mereka adalah bentuk-bentuk dalam entitas empat dimensi dalam ruang-waktu. Oleh karena itu partikel-partikel subatomik memiliki aspek ruang dan aspek waktu. Aspek ruang mereka yang membuat mereka muncul sebagai objek dengan massa tertentu, aspek waktu sebagai proses yang melibatkan energi setara. Ketika partikel subatom diamati, kita tidak pernah melihat mereka sebagai bahan apapun, tetapi apa yang kita amati secara terus-menerus mengubah pola-pola dari satu ke yang lain atau membentuk tarian energi yang berkesinambungan. Partikel-partikel dari dunia sub-atomik tidak hanya aktif dalam arti bergerak sangat cepat; mereka sendiri adalah proses. Keberadaan materi dan aktifitasnya tidak dapat dipisahkan. Mereka adalah aspek yang berbeda dari realitas ruang-waktu yang sama.
Para sufi, dalam keadaan kesadaran nonordinary, tampaknya menyadari interpenetrasi ruang dan waktu pada tingkat makroskopik. Jadi mereka melihat dunia makroskopik dengan cara yang sangat mirip dengan gagasan ahli fisika tentang partikel subatom. Bagi para Sufi “Segala sesuatu tidak permanen”. Realitas yang mendasari semua fenomena yang melampaui segala bentuk dan menentang semua deskripsi dan spesifikasi, menjadi tak berbentuk, kosong atau tidak berlaku. Bagi para sufi semua fenomena di dunia ini tidak lain hanyalah khayalan manifestasi dari pikiran dan bukan realitas sesungguhnya.
KESIMPULAN
Teori dasar dan model dari teori fisika modern yang mengarahkan kita pada suatu pandangan dunia, secara internal konsisten, dan dalam keselarasan yang sempurna dengan pandangan tasawuf. Kesamaan pandangan dunia antara para fisikawan dan sufi tidaklah diragukan. Keduanya muncul ketika manusia bertanya ke sifat dasar alam yang lebih mendalam tentang materi dalam fisika; ke alam kesadaran yang lebih mendalam dalam tasawuf-ketika ia menemukan realitas yang berbeda di balik penampilan duniawi di kehidupan sehari-hari. Fisikawan memperoleh pengetahuan dari percobaan mereka sedangkan sufi mendapatkannya dari meditasi. Sufi melihat ke dalam dan mengeksplorasi kesadaran dalam berbagai tingkatan. Pengalaman kesatuan, pada kenyataannya, sering dianggap sebagai kunci untuk pengalaman dunia tasawuf. Satu lagi kesamaan antara fisikawan dan sufi adalah kenyataan bahwa pengamatan mereka terjadi di alam, yang tidak dapat diakses oleh indra biasa. Bagi para ahli fisika adalah realitas dunia subatomik dan atom; dalam tasawuf mereka melihatnya dalam keadaan kesadaran nonordinary di mana indra dilampaui. Baik bagi fisikawan dan para Sufi, pengalaman multidimensi melampaui dunia indrawi dan karena itu hampir mustahil untuk mengekspresikan dalam bahasa umum.
Quantum Fisika dan tasawuf adalah dua manifestasi komplementer dari pikiran manusia; dari pemahaman yang rasional dan intuitif. Fisikawan modern mengalami dunia melalui spesialisasi yang ekstrem terhadap pikiran rasional; Sufi melalui spesialisasi ekstrim dari pikiran intuitif. Keduanya diperlukan untuk pemahaman yang lebih lengkap tentang dunia. Pengalaman tasawuf diperlukan untuk memahami hakikat terdalam terhadap segala hal dan ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan modern. Oleh karena itu kita memerlukan interaksi dinamis antara intuisi tasawuf dan analisis ilmiah. By: Ibrahim B. Syed
Sebagai bahan update dari blog, saya teringat pada sebuah cerita tentang karya fiksi yang pernah saya baca hasil dari searching dgoogle...karena cerita ini cukup menarik, akhirnya saya coba persembahkan kembali kepada anda..sebelum membaca tentang kisah ini saya sarankan untuk memainkan video di atas, agar lebih meresap ceritanya...hehe
Cerita ini dtulis oleh Syaikh Hakim Nizhami qs merupakan penulis sufi terkemuka diabad pertengahan karena dua roman cinta yang menyayat hati, yaitu Laila & Majnun serta Khusrau & Syirin. Kisah sedih Laila & Majnun , dimana Majnun yang berarti “Tergila-gila akan Cinta”, karena cintanya yang tak sampai pada Laila, akhirnya membuatnya gila. Kisah cinta ini dibaca selama berabad-abad, ratusan tahun jauh sebelum Romeo & Julietnya Wiliam Shakespeare sehingga Kisah Laila & Majnun terkenal sebagai kisah cintanya Persia.
Kisah ini merupakan salah satu kisah yang teramat populer dalam dunia Islam. Selama lebih dari seribu tahun, beragam versi kisah tragis ini muncul dalam bentuk prosa, puisi, dan lagu dalam beragam bahasa di negara-negara Timur. Namun demikian epik karya Nizami-lah yang menjadi dasarnya.
Begitu banyak buku yang ditulis dengan tema cinta, bahkan lebih banyak bila dibandingkan dengan tema lainnya. Nizami, seorang penyair Persia, telah ditugaskan penguasa Kaukasia, Shirvanshah pada tahun 1188 Masehi untuk menulis Laila Majnun. Untuk itu, Shirvanshah bahkan telah menulis surat dengan tangannya sendiri dan memuji Nizami karena keelokan kata-katanya.
Mengenai kisah Laila Majnun sebenarnya merupakan alegori perjalanan seorang hamba untuk sampai kepada Tuhan membawa kita pada proses mencintai dimana kecintaan telah membuat Majun (sebagai makhluk, hamba) dengan sukarela menanggalkan egonya, memandang dirinya dan penciptanya sebagai sebuah kesatuan tak terpisahkan (karenanya hanya sifat mulia-ruh-yang harus dipelihara dan dikembangkan) hingga mencapai fase peniadaan diri. Perjalanan Majnun mencintai Laila, perasaan Laila terhadap Majnun, syair-syair indah menyayat yang tercipta di antara mereka, pilihan cara hidup mereka, secara keseluruhan menggambarkan berbagai sisi kehidupan. Berikut ringkasan cerita kisah Laila dan Majnun:
Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiliki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah SWT memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”
Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”
Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telahmemperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.
Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.
Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.
Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.
Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.
Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”
Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun. Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.
Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.
Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.
Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.
Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.
Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.
Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali
detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu.
Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.
Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.
Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu “Cinta dan Kekayaan”.
Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”
Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”
Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila.
Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya,Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya.
Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini.
Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.
Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal didalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi.
Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan.
Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas itu.
Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila. Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya.
Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya.
Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.
Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya. Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.
Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.
Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.
Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya! Ketika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau terluka.
Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan pesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan putriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu”. Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medan pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajurit dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.
Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian bersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yang dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.
Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu.
Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.
Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.” Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksa Laila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.
Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah menjadi semakin lebih dalam lagi.
Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil namamu, Laila”.
Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” . “Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?.
Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkan syair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunya pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah. Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapai kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang sanggup mengusik dan mengganggunya.
Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil mendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya. Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar dengan Laila.
Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam, padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lama dirindukannya.
Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana, yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Semen tara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selama bermalam-malam.
Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun. .Majnun.
Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luar kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.
Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.
Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Allah swt membelai Majnun dengan penuh kasih sayang dan mendudukkannya disisi-Nya.Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, “Tidakkah engkau malu memanggil-manggil- Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?”
Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih oleh Allah Subhana wa ta’alaa, ia pun bertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada Laila yang malang ? Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun mengilhamkan jawaban kepadanya, “Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia Cinta dalam dirinya sendiri.”
Syair dalam Laila & Majnun “Aku bagaikan orang yang kehausan, kau pimpin aku menuju sungai Eufrat, lalu sebelum sempat aku minum, kau menarikku dan kembali ke kawasan panas membara, padang pasir yang tandus!..
Kau mengajakku ke meja jamuan, tapi tidak pernah mempersilakanku makan! mengapa kau menampakkannya kepadaku di awal, jika tidak pernah berniat untuk membiarkan aku memilikinya?”